Jakarta — Perkembangan sektor properti di Indonesia menunjukkan sinyal positif seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap hunian, khususnya pada segmen rumah subsidi dan hunian terjangkau. Kondisi ini dinilai menjadi indikator bahwa pasar properti mulai bergerak naik setelah sempat melambat dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan tren yang terlihat di lapangan, pencarian rumah pertama masih menjadi kebutuhan utama, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Program perumahan yang didukung pemerintah menjadi salah satu faktor yang mendorong minat pembelian rumah, termasuk melalui kemudahan pembiayaan seperti KPR dan berbagai skema bantuan.
Tidak hanya rumah subsidi, kawasan perumahan dengan konsep modern dan fasilitas lengkap juga mulai mendapat perhatian. Banyak pengembang menghadirkan hunian dengan desain minimalis, akses transportasi yang lebih mudah, serta lingkungan yang lebih nyaman untuk keluarga muda.
Di sisi lain, pelaku industri menilai tren kenaikan permintaan juga dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Setelah pandemi, masyarakat cenderung memilih hunian yang memiliki ruang lebih fleksibel, area terbuka, dan lokasi strategis yang dekat dengan pusat aktivitas.
Namun demikian, tantangan di sektor properti masih tetap ada. Kenaikan harga material bangunan dan biaya pengembangan menjadi faktor yang ikut memengaruhi harga jual rumah. Meski begitu, pengembang berusaha tetap menjaga harga agar tetap kompetitif dengan menawarkan promo, diskon, hingga cicilan ringan untuk menarik konsumen.
Pengamat properti menilai potensi pasar properti Indonesia masih besar, terutama karena kebutuhan hunian terus meningkat setiap tahun. Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah dalam mendorong pembangunan perumahan dinilai dapat menjaga pertumbuhan sektor ini agar lebih stabil.
Dengan meningkatnya minat terhadap hunian terjangkau, sektor properti diprediksi akan terus berkembang, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki rumah dengan lebih mudah.