Sepakbola Indonesia memasuki 2026 dengan optimisme yang cukup besar. Kompetisi domestik tampak semakin kompetitif, beberapa klub mulai membangun manajemen yang lebih modern, dan antusiasme publik tetap tinggi. Namun, satu pertanyaan klasik tetap relevan: apakah peningkatan ini benar-benar berkelanjutan?
Persaingan liga yang ketat memang menjadi kabar baik. Tim papan tengah kini bisa mengganggu dominasi klub besar, sementara pemain muda mulai mendapatkan menit bermain lebih banyak. Akan tetapi, kompetisi yang ketat tidak otomatis berarti kualitas meningkat jika aspek dasar—seperti konsistensi regulasi, kualitas perwasitan, dan standar profesional klub—masih belum stabil.
Di luar lapangan, sepakbola Indonesia masih hidup dari energi suporter. Tetapi energi itu memerlukan wadah yang tertib dan profesional. Tanpa pembenahan yang serius, euforia bisa berubah menjadi tekanan, dan tekanan bisa melahirkan konflik yang berulang.
Tahun 2026 menawarkan harapan sekaligus peringatan. Sepakbola Indonesia dapat melaju lebih jauh jika pembenahan berjalan konsisten. Jika tidak, sepakbola nasional akan kembali berjalan di tempat, terjebak dalam siklus ramai sesaat dan lupa jangka panjang.