Posted in

Selamat Tinggal ‘Public Feed’, Brand Kini Alihkan Anggaran Besar-besaran ke Komunitas Privat di Awal 2026

0 0
Read Time:1 Minute, 45 Second

JAKARTA, – Lanskap pemasaran digital di awal tahun 2026 mengalami guncangan yang cukup signifikan. Laporan tren terbaru menunjukkan bahwa era kejayaan belanja iklan masif di “public feed” media sosial mainstream mulai meredup. Sebagai gantinya, anggaran pemasaran dari berbagai brand besar kini mengalir deras ke kanal-kanal komunitas privat yang lebih eksklusif dan tertutup.

Para pemasar (marketers) mulai menyadari bahwa meskipun platform terbuka seperti Instagram Ads atau TikTok Ads menawarkan jangkauan (reach) yang luas, tingkat keterlibatan (engagement) yang dihasilkan semakin menurun dan terasa dangkal. Biaya akuisisi pengguna di platform publik ini pun dirasa semakin mahal namun kurang efektif dalam membangun loyalitas jangka panjang.

Mengejar Autentisitas di Ruang Tertutup

Alasan utama pergeseran ini adalah kejenuhan konsumen terhadap gempuran iklan (ad fatigue) di ruang publik digital. Pengguna media sosial semakin pandai mengabaikan konten yang berbau promosi di feed mereka.

Sebaliknya, platform berbasis komunitas privat seperti server Discord, Saluran (Channel) WhatsApp, dan grup Telegram menawarkan dinamika yang berbeda. Di ruang-ruang tertutup ini, interaksi yang terjadi jauh lebih otentik. Anggota komunitas merasa berada dalam lingkungan yang aman dan memiliki minat yang sama, sehingga lebih terbuka terhadap pesan yang disampaikan oleh brand, asalkan relevan dan memberikan nilai tambah.

Strategi Baru: Membangun “Rumah” Sendiri

Pergeseran ini mengubah cara brand berinteraksi dengan audiensnya secara fundamental. Kini, fokus mereka bukan lagi sekadar “menumpang lewat” di feed pengguna dengan iklan baris, melainkan membangun “rumah” digital mereka sendiri.

Contohnya, brand teknologi gaming lebih memilih menginvestasikan dana untuk mengelola server Discord yang aktif. Di sana, mereka memfasilitasi diskusi langsung antara pengguna dengan tim pengembang produk, mengadakan acara komunitas eksklusif, dan memberikan akses early bird yang tidak tersedia di publik.

Sementara itu, brand ritel atau fashion memanfaatkan fitur Saluran WhatsApp untuk membagikan konten “di balik layar” atau kode promo rahasia yang hanya berlaku bagi anggota grup tersebut. Dengan demikian, komunikasi menjadi dua arah dan terasa lebih personal.

Tahun 2026 diprediksi akan menjadi era “Community-Led Growth”, di mana metrik keberhasilan bergeser dari sekadar jumlah views menjadi kualitas interaksi dan kedalaman hubungan dengan pelanggan. Brand yang berhasil membangun komunitas privat yang kuat akan memiliki aset jangka panjang yang jauh lebih berharga daripada sekadar viral sesaat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %